Albasia: Investasi di Bumi selain Saham BUMI

Sudah lama saya tidak menulis tentang investasi dancara belajar investasi. Akhir-akhir ini memang sedang marak alternatif investasi selain instrumen pasar modal seperti investasi saham, reksadana dan efek lainnya.

Salah satunya adalah investasi properti dan emas. Apalagi emas dan tanah sangat kuat melawan inflasi.Ada pepatah yang mengatakan, “the best investment in the earth is earth itself”. Investasi terbaik di muka bumi adalah investasi di bumi itu sendiri.

Tentunya bukan saham BUMI yang sedang ramai dibicarakan dan selalu menjadi rumorbaik di kalangan investor, trader, para fund manager maupun broker. Saham BUMI memang menggiurkan untuk dikoleksi, tapi juga sekaligus bisa membangkrutkan. Tentunya siapapun masih ingat bahwa saham BUMI yang tahun 2003 (?) harganya masih Rp. 20, pada tahun 2008 kemarin sempat menyentuh harga Rp. 8750. Artinya, siapapun yang sempat membeli di tahun 2003 di harga 20, maka pada tahun 2008 lalu, asetnya tumbuh lebih dari 400 kali lipat.

Maka tak heran apabila Aburizal Bakrie yang baru saja terpilih sebagai ketua umum Partai Golkar(selaku bos dari Bakrie and Brothers; BNBR) sempat menjadi orang terkaya di negeri ini karena beliau memiliki BUMI sejak tahun 2003.

Namun saham BUMI pula yang sempat membuat investor dan trader frustrasi ketika harganya terjun bebas hingga 380an di tahun 2008. Sekarang, BUMI pun membuat langkah fenomenal, karena dalam waktu kurang lebih 1 tahun harganya kembali ke 3000an.

Itulah cerita tentang saham BUMI.Yang ingin diceritakan di postingan ini adalah bumi yang sedang kita pijak, bukan saham BUMI yang selalu hangat dalam rumor saham.

Minggu lalu, saya mencoba belajar investasi di saham ALBA(emang ada?:-))Yang dimaksud adalah investasi kayu Albasia.Nama lain kayu albasia adalah sengon. Dalam bahasa latin disebut Albazia Falcataria, termasuk famili Mimosaceae, keluarga petai–petaian.

Di Indonesia, sengon memiliki beberapa nama daerah seperti berikut: jeunjing, jeunjing laut, jengjen (Sunda), kalbi, sengon landi, sengon laut, atau sengon sabrang (jawa). Maluku : seja (Ambon), sikat (Banda), tawa (Ternate), dan gosui (Tidore)Albasia saya anggap investasi yang juga memiliki potensi profit melebihi saham BUMI.

Bayangkan saja, harga per batang benih albasia siap tanam hanya sekitar 1000 perak. Kemarin kita beli 500 batang. Total modal awal: 500.000 setara dengan 1/3 lot saham BUMI, atau 5 lot saham DEWA(temannya BUMI). Waktu panen ideal adalah lima tahun yang akan datang dengan rata-rata harga jual per batang pohon 500-600 ribu-an.

Jadi kalau kita menanam 500 pohon dan ditebang semuanya, maka omzet kita adalah 250 juta, sekitar 500 kali lipat dari modal awal. Anggaplah 50% dari laba kita bayarkan sebagai beban pemeliharaan, walhasil keuntungan yang diraup sekitar 125 juta bersih, ini pun masih 250 kali lipat dari modal awal. Wow!Tapi yang namanya investasi selalu mengandung risiko.

Risiko terbesar dari budidaya kayu albasia adalah bencana alam dan gagal panen. Tentunya kita harus bekerja keras dengan energi kita untuk selalu meminimalisir risiko, supaya profit kita menjadi optimal…Semoga.Untuk yang penasaran dengan panduan teknis budidaya sengonsilakan diunduhdi sini!

(Visited 5 times, 1 visits today)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *