Punya investasi adalah hal yang wajib. Sama wajibnya dengan tabungan yang wajib kamu sisihkan setiap bulannya. Dari sekian banyak model investasi, ada dua nama yang juga paling tenar yaitu saham dan obligasi. Apa sesungguhnya perbedaan saham dan obligasi?
Banyak orang juga investor pemula yang belum mengetahui tentang perbedaan saham dan obligasi. Meski sama-sama menguntungkan, keduanya miliki sebagian perbedaan yang membuatnya sesuai atau tidak dengan profil risiko investor. Simak perbedaannya didalam gambaran tersebut ini!
Pengertian Saham dan Obligasi
Untuk mengetahui perbedaan saham dan obligasi, kamu wajib mengetahui khususnya dahulu definisi keduanya. Saham adalah surat bukti kepemilikan individu atas aset sebuah perusahaan. Saham kebanyakan dihitung dengan satuan lot dan harga setiap lot dapat beralih setiap harinya. Setiap pemilik surat saham berhak atas keuntungan yang didapatkan perusahaan sesuai dengan jumlah lot saham yang mereka miliki. Keuntungan didalam investasi saham disebut dividen.
Perusahaan yang menerbitkan saham disebut sebagai perusahaan terbuka (biasanya menuliskan kata ‘Tbk’ terhadap akhir namanya). Tujuan perusahaan mengeluarkan surat saham adalah untuk menyatukan modal demi menunjang keberlangsungan produktivitas bisnisnya.
Sementara itu obligasi merupakan surat pinjaman (disebut kupon) yang dikeluarkan oleh perusahaan atau pemerintah, lengkap dengan bunga serta informasi jatuh tempo pembayarannya. Surat ini merupakan bukti perjanjian peminjaman dana sekaligus besaran bunga yang wajib dibayarkan oleh pihak penerima obligasi. Meski perusahaan dapat mengeluarkan obligasi, tapi obligasi lebih kerap dikeluarkan oleh pemerintah. Contoh obligasi yang dapat kami temukan di pasar investasi adalah Surat Utang Negara (SUN) dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI).
Melalui pengertian ini dapat disimpulkan terkecuali pemilik saham miliki hak juga atas perusahaan. Hak di sini tak hanya hak berupa keuntungan juga hak suara. Sementara didalam obligasi, pemilik cuma berstatus sebagai pemberi utang.
Batas Masa Berlakunya
Saham dan obligasi miliki masa berlaku yang berbeda. Pemilik saham, sepanjang perusahaan masih berdiri dan dia masih miliki surat bukti kepemilikan sahamnya, dia berhak atas keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan. Hal yang tidak sama berlaku untuk obligasi. Obligasi miliki masa berlaku yang tertera mengetahui di didalam surat.
Bisa disimpulkan bahwa saham merupakan keliru satu instrumen yang sesuai dipilih untuk kebutuhan jangka panjang. Namun saham juga juga high risk high return investment. Artinya, saham dapat mendatangkan keuntungan yang banyak, tapi risikonya juga tinggi. sebab itu, pastikan kamu pilih product saham dari perusahaan yang terpercaya. Misalnya saja saham-saham blue chip.
Di segi lain, adanya tanggal berlaku terhadap obligasi juga berikan keuntungan bagi pemiliknya. Kamu dapat memperkirakan kapan investasi bakal berakhir sehingga dapat mengalihkannya ke instrumen lain. Ruginya, keuntungan cuma bakal kamu dapatkan sepanjang obligasi masih berlaku. Jika telah habis, maka kamu telah tidak meraih apa-apa ulang dari investasimu.
Tingkat Keuntungan
Salah satu perbedaan saham dan obligasi lainnya adalah tingkat keuntungan yang dijanjikan. Keuntungan dari investasi saham tidak dapat diperkirakan dengan kata lain fluktuatif. Jadi penghasilan yang bakal kamu dapatkan terkait terhadap keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan. Jumlahnya tidak bakal mirip setiap bulannya. Kalau beruntung, kamu dapat saja meraih keuntungan 2 kali lipat dari bulan sebelumnya.
Berbeda dengan obligasi yang lebih stabil. Keuntungan dari kepemilikan obligasi kebanyakan dapat didapatkan setiap bulan didalam jumlah senantiasa sampai masa berlaku suratnya berakhir. Bagi kamu yang puas risiko, saham mungkin dapat menjadi pilihan. Tapi terkecuali idamkan yang pasti-pasti saja, tak ada salahnya pilih obligasi yang lebih aman.

ini dikatakan oleh direktur sean william henley